Sunday, November 9, 2014

linguistik aliran praha

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Linguistik merupakan bidang ilmu yang membahas tentang kebahasaan secara umum. Di dalam Al-Qur’an ilmu linguistik lahir bersamaan dengan lahirnya nabi Adam, AS. Ayat yang menjelaskan lahirnya ilmu linguistik pertama kali adalah ayat 31 sampai dengan ayat 33 surat Al-Baqoroh.
Ayat tersebut berbunyi “dan tuhan mengajarkan kepada Adam nama-nama (unsur kebahasaan) seluruhnya, kemudian tuhan menawarkan kepada para malaikat seraya berkata coba jelaskan kepadaku tentang nama-nama (unsur kebahasaan) tersebut jika kamu orang yang benar”(ayat 31). Selanjutnya, “para malaikat menjawab, maha suci engkau, kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya engkau maha tahu dan maha bijaksana”(ayat 32). Selanjutnya, “tuhan berkata, wahai Adam, jelaskan kepada mereka tentang nama-nama mereka, kemudian setelah Adam menjelaskan kepada mereka tentang nama-nama mereka maka tuhan berkata bukankah telah aku katakan bahwa aku mengetahui segala kegaiban (pengetahuan) di langit dan di bumi?  Dan aku juga mengetahui apa yang kamu nampakkan dan kamu sembunyikan” (ayat 33).
Berdasarkan ketiga ayat tersebut yang berisi dialog antara tuhan, nabi Adam dan para malaikat mengandung makna bahwa ajaran linguistik telah ada dan berkembang sejak lahirnya nabi Adam. Tuhan mengajarkan nabi Adam tentang nama-nama secara umum dan menyeluruh yang merupakan unsur kebahasaan. Ilmu linguistik inilah yang kemudian menjadi keunggulan nabi Adam dibandingkan dengan para malaikat. Ilmu ini kemudian berkembang seiring dengan berkembangnya kehidupan manusia di muka bumi sampai saat ini.
Dalam bidang ilmu linguistik dikenal berbagai macam aliran linguistik (Zeyacute.Blogspot.com). Macam aliran tersebut diantaranya adalah:
1.      Linguistik tradisional, meliputi linguistik zaman yunani, linguistik zaman romawi, linguistik zaman pertengahan, dan linguistik zaman renaisans.
2.      Linguistik struktural, meliputi aliran Ferdinand De Saussure, aliran praha, aliran glosematik, aliran firthian, dan aliran linguistik sistemik.
3.      Linguistik tagmemik.
4.      Linguistik kasus.
5.      Linguistik transformasi generatif.
6.      Linguistik relasional.
Dari keenam macam aliran linguistik tersebut, kita akan membahas satu macam aliran saja, yaitu aliran linguistik struktural. Aliran ini memiliki lima macam cabang aliran, diantaranya adalah linguistik aliran praha. Linguistik aliran praha inilah yang akan menjadi fokus pembahasan kita.
B. Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, didapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pengertian linguistik aliran Praha?
2. Bagaimanakah sejarah berdirinya linguistik aliran Praha?
3. Bagaimanakah pandangan teori linguistik aliran Praha?
C. Tujuan Penulisan
          Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengertian linguistik aliran Praha.
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah berdirinya linguistik aliran Praha.
3. Untuk mengetahui bagaimana pandangan teori linguistik aliran Praha.

BAB II
PEMBAHASAN
          Bagian ini merupakan bagian inti, yaitu bagian pembahasan. Di sini akan dibahas tiga poin pembahasan dengan tujuan menjawab rumusan masalah. Ketiga poin pembahasan meliputi pengertian aliran praha, sejarah lahirnya aliran praha, dan pandangan-pandangan aliran tersebut.     
A. Pengertian Linguistik Aliran Praha
            Aliran praha merupakan salah satu aliran linguistik. Aliran ini lahir atau didirikan pada tanggal 06 Oktober 1926 oleh para linguis atau ahli bahasa di Cekoslovakia   (Rezqannoorfarid.file.wordpress.com).
Aliran ini dianggap sebagai sambungan terpenting dari strukturalisme yang dikembangkan oleh Karl Buhler.  Karl Buhler meneruskan apa yang telah diajarkan oleh bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure. Aliran ini menerapkan gagasan Ferdinand de Saussure terutama di bidang sistematika bunyi dalam bahasa yang kemudian melahirkan evaluasi terhadap teori fonem. Namun, tidak semua teori Saussure diterima oleh para sarjana aliran ini.
B. Sejarah Berdirinya Linguistik Aliran Praha
          Linguistik aliran praha sebenarnya lahir dan dimulai dari asumsi-asumsi Ferdinand de Sausure yang sangat terkenal di kalangan linguis modern. Dari asumsi-asumsi tersebut beberapa ilmuan bahasa melakukan modifikasi ke dalam bentuk yang berbeda dengan konsep yang lebih matang.
          Aliran praha lahir pada tanggal 6 Oktober 1926 di Cekoslovakia. Aliran ini, yang juga dikenal dengan sebutan Lingkaran Linguistik Praha atau Prazsky Linguisticky Krouzek atau Cercle Lingistique de Prague merupakan aliran yang dipelopori oleh beberapa sarjana bahasa, yakni Bohuslav Havranek, Vilem Mathesius, Jan Rypka, Bohumil Trnka, dan Roman Jakobson. Tokoh-tokoh tersebut melahirkan sebuah karya bersama yang dikenal sebagai Theses presentees au Premier Congres International de Linguistes a la Haye par R. Jakobson, S. Karcesvskij, V. Mathesius avec Ch. Bally et A. Sechehaye (Theopilusdavid.Blogdetik.com).
Karya yang dicetuskan oleh para pendiri aliran praha ini berisi sembilan tesis yang dispesifikasikan menjadi tiga bagian. Dalam tesis pertama lebih menekankan pada pengkajian kembali mengenai masalah metodologi, analisis kronik mengenai fakta kontemporer, metode komparatif, dan hukum tata bahasa. Pada tesis yang kedua The Linguistic Circle of Prague membahas sehubungan dengan aspek bunyi dan kata. Jikalau pada tesis yang kedua dikupas mengenai sistem gramatiknya, pada tesis yang ketiga The Linguistic Circle of Prague membahas tentang fungsi-fungsi bahasa yang berbeda-beda, sejauh fungsi-fungsi tersebut mengakibatkan perubahan dalam struktur gramatikal dan struktur bunyi.
C. Pandangan Teori Linguistik Aliran Praha
          Pandangan linguistik modern berdasarkan pada asumsi-asumsi Ferdinand de Sausure. Secara umum asumsi-asumsi Ferdinand de Sausure terdiri dari enam aspek dikotomi, yaitu dikotomi sinkronik dan diakronik, dikotomi bentuk dan substansi, dikotomi signifian dan signifie, dikotomi langue dan parole, dikotomi individu dan sosial, serta dikotomi sintagmatik dan paradigmatik (Ogel-Blogspot.Blogspot.com).
          Secara garis besar linguistik aliran praha menitik beratkan pada beberapa kajian bahasa sebagai berikut. Pertama, fonologi, yaitu studi mengenai pola bunyi yang memiliki arti fungsional. Kedua, konsep perspektif kalimat secara fungsional, yaitu pendekatan dengan orientasi fungsional terhadap interpretasi linguistik. Ketiga, kajian fungsi estetik bahasa dan peranannya dalam kesusasteraan. Keempat, kajian fungsi bahasa baku dalam masyarakat modern (Samsuri dan Alwasilah dalam Busri, H., 2008:07).
          Adapun pandangan-pandangan beberapa ahli linguistik aliran praha cukup bermacam-macam. Misalnya menurut Karl Buhler bahasa merupakan satu sistem tanda dan sebagai alat untuk menyampaikan perasaan atau pemikiran kita kepada orang lain, baik dengan lisan, tulisan ataupun isyarat. Menurutnya, bahasa ditinjau dan dibagi menjadi tiga aspek, yaitu penutur atau pembicara, penanggap tutur atau lawan bicara dan objek yang menjadi bahan pembicaraan. Contoh: “apakah anda tahu kalau dia pergi ke rumah saya tadi malam?”. Pada kalimat tersebut terdapat kata “anda”, “dia”, dan “saya”. Kata “anda” menunjukkan objek atau bahan pembicaraan, kata “dia” menunjukkan lawan bicara, sedangkan kata “saya” menunjukkan pada pembicara.
          Pandangan kedua adalah pandangan dari ahli linguistik aliran praha yang bernama Nikolai Sergeyevich Trubeckoj. Dia menggunakan pembedaan tiga fungsi bahasa, yaitu fungsi ekspresi dari si pembicara, fungsi appeal pada si pendengar, dan fungsi referensi pada suatu keadaan tertentu atau representasi keadaan. Ketiga fungsi ini merupakan fungsi fonologi.
          Penting untuk dicatat di sini bahwa pada ranah referensi ciri-ciri bunyi dapat dibagi menjadi tiga macam fungsi, yaitu fungsi kulminatif, fungsi deliminatif, dan fungsi distingtif. Fungsi kulminatif merupakan salah satu fungsi bahasa untuk menunjukkan ada berapa unit bunyi dalam suatu kalimat. Fungsi deliminatif bertujuan untuk menandai batas antara unit-unit bunyi. Sedangkan fungsi distingtif bertujuan untuk membedakan unit-unit yang mengandung makna tertentu pada suatu kalimat.
          Pandangan berikutnya yang lahir dalam konsep linguistik aliran praha adalah pendapat salah satu linguis aliran tersebut yang bernama Roman Osipovich Jacobson. Ia berpendapat bahwa bunyi ujaran ditandai dengan memberikan sejumlah parameter pembeda dan mandiri atau semi mandiri. Parameter tersebut dibagi menjadi tiga aspek, yaitu parameter artikulasi tinggi rendahnya kedudukan, parameter artikulasi lidah pada skala depan dan belakang, serta parameter artikulasi kedudukan langit-langit belakang pada vokal dan konsonan berupa nasal dan oral (Busri, H., 2008:9).
          Pandangan lain yang menjadi kajian linguistik aliran praha adalah pandangan dari Vilem Mathesius yang mengatakan bahwa setiap tindakan ujaran tersusun atas dua aspek susunan yang berbeda. Kedua aspek tersebut adalah pola gramatik kalimat dan struktur pembawa informasi dari suatu kalimat. Contoh kalimatnya adalah firman Allah dalam Al-Qur’an yaitu, “dan mereka hidup di dalam goa mereka selama 300 tahun, dan tambahlah olehmu Sembilan” (Q.S Al-Kahfi, 25).
          Ayat ini di dalam beberapa tafsirnya memiliki pesan pembawa informasi tertentu sehingga pola gramatika kalimatnya dibuat sedemikian rupa sehingga menunjukkan pada pesan atau informasi yang diinginkan. Hal ini membuat pembaca atau pendengar memahami objek yang dibicarakan atau topik yang dijadikan bahan pembicaraan. Dari pandangan inilah kemudian lahir konsep tema dan rema atau dalam bahasa arab dikenal dengan mubtada’ dan khobar.
          Contoh tema dan rema dalam bentuk kalimat adalah “Andi kakak saya” dan “kakak saya Andi”. Pada kalimat pertama, Andi menjadi tema sedangkan kakak saya menjadi rema. Adapun pada kalimat kedua, Andi menjadi rema dan kakak saya menjadi tema.
          Pandangan terakhir yang dapat ditelusuri dalam aliran praha adalah pandangan dari Jan Mokarovsky. Ia berpendapat bahwa setiap objek tindakan, termasuk bahasa bisa memiliki fungsi praktisnya. Menurut Hasan Busri fungsi praktis bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Dengan demikian maka fungsi estetik tidak hanya terbatas pada karya sastra saja, tetapi lebih dari pada itu, fungsi estetik tersebut hadir dalam hubungannya dengan objek atau tindakan apapun (Busri, H., 2008:12).    
BAB III
PENUTUP
          Bagian ini berisi kesimpulan tentang masalah-masalah yang telah dibahas dalam pembahasan, berupa pengertian aliran linguistik, sejarah dan pandangan-pandangannya. Selain itu, bagian ini juga berisi saran-saran yang dibuat berdasarkan pembahasan dan kesimpulannya.
A. Kesimpulan
          Berdasarkan pembahasan masalah pada bab II dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut.
1.      Aliran Praha merupakan salah satu aliran linguistik yang pandangannya bermuara pada pandangan Ferdinand de Sausure. Dengan demikian maka aliran ini merupakan pengikut Ferdinand de Sausure. Aliran ini lahir pada 06 oktober 1926 di Cekoslovakia.
2.      Tokoh aliran ini antara lain: Karl Buhler, Villem Mathisius, Prince Nicolai Sergeyevich Trubeckoj, Andre Martinet, Roman Jacobson, Bohuslav Havranek, Jan Rypka, Bohumil Trnka.
3.      Pandangan-pandangan aliran praha terhadap ilmu kajian bahasa atau linguistik adalah pertama, aliran ini memfokuskan pandangannya pada fungsi-fungsi bahasa. Kedua, fungsi bahasa yang dimaksud secara garis besar adalah fonologi, perspektif kalimat, estetik, dan bahasa baku.
B. Saran
          Berdasarkan pembahasan dan kesimpulannya yang telah dipaparkan, maka saran-saran yang perlu diajukan adalah sebagai berikut.
1.      Aliran praha selain memberikan pandangannya terhadap fungsi bahasa dalam kalimat nominal atau dalam bahasa arab disebut jumlah ismiyah, perlu juga memberikan pandangannya tentang fungsi bahasa dalam kalimat verbal atau jumlah fi’liyah.
2.      Mengenai unsur estetik perlu diperjelas bagaimana unsur tersebut dipandang dari segi bentuk kalimatnya atau dari segi makna.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama Islam.
Busri, Hasan. 2008. Kajian Bahasa, Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang : UIN Maliki.
Ogel-Blogspot.Blogspot.com/2011. Linguistic De Sausure.
Rezqannoorfarid.file.wordpress.com/2012/09. Aliran Praha, Linguistik Fungsional.
Theopilusdavid.Blogdetik.com/2011. Aliran Praha, Teori Ilmu Bahasa Fungsional.
Zeyacute.Blogspot.com/2013. Aliran-aliran dalam Linguistik.

0 comments:

Post a Comment