Friday, September 28, 2012

Menemukan tema, latar, dan penokohan, pada cerpen-cerpen dalam satu kumpulan cerpen


Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

  1. Menemukan tema, latar, dan penokohan, pada cerpen-cerpen dalam satu kumpulan cerpen


Cerpen

Cerpen adalah sebuah cerita yang singkat, padat, dan jelas. Singkat karena hanya terdiri atas ± 10.000 kata, padat karena akan memuat peristiwa-peristiwa inti dalam cerita, dan jelas karena tetap akan kita temukan akhir penyelesaian dari peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Unsur pembangunan dalam cerpen terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur pembangun yang berasal dari dalam tubuh karya sastra, yang meliputi tema, alur, karakteristik, setting, sudut pandang, amanat. Unsur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang iktu mempengaruhi kahadiran suatu karya sastra, seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, politik, keagamaan, dan tata nilai masyarakat.

Contoh cerpen.
" RADIO MASYARAKAT "
Kehendak zaman?.........Semangat baru?........Ya, barangkali buat Tuan...Bagi saya belum terpikirkan........
Masih mendengung-dengung perkataan itu dalam telinga dokter Hamzah. Seakan-akan diucapkan perlahan-lahan. Seperti seorang pembicara di muka sidang ramai yang menekankan kata-katanya satu persatu, agar lebih meresap ke dalam kalbu pendengarnya. Sayup-sayup suara itu mendatang. Tertahan-tahan, tetapi terang dan tidak ragu-ragu.Kata-kata yang diucapkan oleh kuswari tadi, tatkala ia datang ke kamarnya untuk, katanya, diperiksa sakit badannya. Kuswari mengeluh panjang-panjang. Seolah-olah dengan demikian hendak ia lemparkan segala beban yang memberat, hendak ia lepaskan segala kepegalan yang menghimpit sukma. Dokter Hamzah meletakkan alat-alat pemeriksanya. Kus disuruhnya mengenakan bajunya kembali. Sementara ia berjalan-jalan di dalam kamar yang sedang besarnya itu. Habis segala ilmunya digunakannya. Habis segala kecakapannya dilepaskannya. Pendapat akhir tetaptak beralih. Kus tak kurang apa-apa. Badannya dalam deadaan sehat. Sepanjang ilmu kedokteran.
Tetapi dimana letak pangkalnya segala-gala ini ? Mengapa Kus semacam ini ? atau mestikah di sini dicari sebabnya dalam ilmu psikiatri lagi? Kus sudah berdiri kembali di hadapannya menantikan kata keputusannya. Sikapnya seperti seorang yang telah menyerah. Pandangannya lindap, bahkan kabur. Kepalanya tunduk. “Ya, Kus, engkau tak kurang apa-apa. Engkau sehat, tak ada obat yang dapat kuberikan tetapi....”
Ia berhenti sebentar. Ada yang dipikirkannya. Kus antara cemas dan harap. Kemudian dengan tersenyum kata dr Hamzah pula. “tetapi ada juga obat yang dapat kuberikan. Obat yang kalau dikatakan bersahaja, mahal juga didapatkan. Kus, kau harus kisarkan pandangan hidupmu. Itulah satu-satunya obat mujarab bagi penyakitmu. Kau mesti mencoba mengetahui apa kehendak zaman. Mesti mencoba mendalami semangat baru, itu tak mudah. Tapi aku percaya, kau pandai mencari dan menimbang sendiri. Buat sementara rasanya tak perlu kuterangkan kepadamu. Cari dulu. Nah, Kus nanti kita bicarakan lagi.”
Sejurus Kus terdiam. Tetapi perlahan-lahan seakan-akan bertukar cahaya mukanya, cahaya yang tak dapat disifatkan lebih jauh. Bibirnya menggelung ejek. Cepat-cepat berhamburan katanya. “Kehendak zaman? Semangat baru? Ya, barangkali buat Tuan. Bagi saya belum terpikirkan.” Cuma itu saja ia berpaling, lalu terus meninggalkan dr. Hamzah, lupa ia menabik hatinya pedar!.
Dari : Gema Tanah Air : Prasa dan Puisi Karya HB Yasin
Pada Pelajaran 1 kamu telah mengikuti kegiatan menceritakan kembali isi cerpen. Tentunya, kamu telah banyak membaca cerpen. Kamu akan dapat memperoleh cerpen dari kumpulan cerpen. Cerpen yang dimuat dapat berasal dari satu pengarang dan juga dapat merupakan karya dari beberapa pengarang. Setiap pengarang pada umumnya memiliki kekhasan
gaya bercerita yang membedakan dengan pengarang yang lain, misalnya dalam memilih tema, melukiskan penokohan, menampilkan latar, penggunaan gaya bahasa, dan mengungkapkan amanat. Bacalah dengan cermat cerpen dalam kumpulan cerpen Rindu Ladang Padang Ilalang karya M. Fuadi Zaini berikut ini

1. Cerpen ”Warisan”

                                                       WARISAN

Barham betul. Ia punya hak atas sebagian harta yang cukup banyak itu. Kira-kira empat sampai lima miliar rupiah.
“Lumayan kan, Mas?” katanya padaku.
“Bukan lumayan lagi,” kataku. “Untuk ukuran saya, itu sudah luar biasa. Maklum, saya kan tidak kaya seperti Anda.” Ia tertawa, mungkin senang dan bercampur bangga. Aku pun tersenyum.
“Tapi masalahnya tak semudah yang kita kira,” katanya kemudian agak kendor.
“Kenapa?”
“Begini. Ternyata kakak saya itu bangsat juga, bahkan bangsat besar. Harta itu ia kuasai sendiri. Ia tidak mau membaginya menurut hukum waris. Dan saya hanya dijatahnya tiap bulan tak lebih dari delapan ratus ribu. Adik
perempuan saya lebih sedikit lagi.”
“Lumayan juga .”
“Lumayan bagaimana? Apa artinya uang segitu dibanding dengan keuntungan yang ia peroleh tiap bulan dari harta yang belasan miliar itu? Tiap bulan ia dapat puluhan atau mungkin ratusan juta.”
“Lalu?”
“Ya, tak ada lalunya. Sampai sekarang pun saya sudah kawin dan punya dua orang anak, saya masih juga dijatah segitu.” Aku tak habis mengerti. Bagaimana seorang kakak memperlakukan adik-adiknya demikian. Begitu tega ia menguasai sendiri harta warisan dari ayahnya. Adik-adiknya hanya dijatahnya dengan jumlah yang tidak begitu
banyak.
* * *
Barham betul. Ia punya hak penuh atas harta bagian warisannya itu. Dapat dimengerti kalau ia sampai begitu jengkel dan marah. Semua itu ia lampiaskan di hadapanku.
“Bahkan ibu saya, ibunya sendiri ia jatahi juga seperti seorang anak kecil.”
“Terlalu, “ kataku.
“Terlalu sekali,” sambungnya. “Kalau sedikit saja ia punya rasa perikemanusiaan, ia tak akan berbuat begitu. Tak usahlah kita bicara tentang rasa keagamaan atau iman atau yang semacamnya. Saya kira ia sudah buta
tentang itu.”
Sekali lagi Barham memang betul. Ia melampiaskan semua itu di hadapanku. Tetapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak punya kekuasaan yang bisa memaksa kakaknya itu. Aku hanya salah seorang teman
dekatnya. Walau kami pernah belajar di luar negeri dulu, Barhan memang pernah tinggal satu flat denganku. Ia seorang yang baik dan cukup cerdas.
Hanya saja ia agak penggugup dan penakut. Kabarnya karena ayahnya amat keras kepada anak-anaknya, termasuk Barham. Mungkin jiwa Barham tidak begitu kuat menghadapi guncangan-guncangan itu. Hal itu tampak jelas dalam gerak-gerik dan perilaku Barham sehari-hari.
* * *
Contoh-contoh dapat banyak kita temukan. Kalau Barham, misalnya, kusuruh cepat-cepat mendaftar masuk universitas, dengan serta-merta ia menolak dengan berbagai macam alasan.
“Nanti, tahun berikutnya saja, Mas,” katanya padaku.
“Kenapa?” tanyaku
“Saya harus memperkuat bahasa dulu.”
“Saya kira sekarang sudah cukup. Dan itu dapat terus diperbaiki dan disempurnakan sambil jalan.”
“Wah, itu yang saya tidak sanggup.”
“Kenapa tidak?”
“Ya, begitulah. Lebih baik saya tangguhkan dulu.”
“Teman-teman dari Eropa, Jepang, dan Afrika, bahasa mereka sudah cukup baik dengan hanya belajar rajin dalam waktu beberapa bulan saja. Kenapa kita harus menghabiskan setahun lebih hanya untuk itu?”
Namun ia tetap tidak mau. Sebenarnya, ia hanya kurang berani. Tatkala sudah masuk universitas pada tahun berikutnya, kuliahnya juga agak tersendatsendat. Dekat-dekat waktu ujian, ia sudah sakit. Sakitnya macam-macam. Saya kira sebenarnya hanyalah karena faktor psikologis. Ia takut menghadapi ujian-ujian itu dan agaknya ia dapat pelarian yang cukup aman dengan jalan sakit itu.
* * *
Tatkala suatu kali, ia dapat telegram bahwa ayahnya meninggal, langsung ia mau ambil keputusan pulang.
“Tapi kembali lagi kan?” tanyaku serius.
“Tidak, Mas,” katanya. “Saya tak akan kembali lagi.”
“Lantas studimu ditinggalkan?”
“Ya, apa boleh buat.”
“Kan sayang sekali, setahun lagi Anda dapat tamat.”
“Tak apalah. Saya harus pulang dan membereskan harta warisan dari ayah saya. Ayah saya meninggalkan warisan yang cukup banyak.”
* * *
Memang sayang sekali ia tidak melanjutkan studinya. Namun, aku tidak dapat memaksanya. Aku hanya seorang teman dekatnya. Kami pun berpisah. Cukup lama juga kami berjauhan satu sama lain. Manalagi ia jarang sekali
menulis surat. Namun sayup-sayup, aku masih dengar juga berita tentangnya dari teman-teman yang lain.
Waktu aku pulang, ia cukup sering datang ke rumahku. Tak lain yang dilampiaskannya hanyalah soal harta warisan itu. Tampaknya penyakit gugup dan takutnya sudah agak banyak berkurang sekarang. Ia sudah kawin dan punya anak dua yang mungil-mungil.
“Lantas bagaimana rencana Anda menghadapi soal warisan itu sekarang?” tanyaku dengan nada mau ikut cari jalan keluar. Ia diam beberapa saat, seperti sedang berpikir berat dan kemudian mau mengatakan sesuatu, tapi tampaknya ragu-ragu.
“Katakan saja kalau ada sesuatu yang mau dikatakan,” kataku lagi.
“Sebetulnya, saya sudah punya rencana yang sudah lama saya pikirkan. Saya sudah nekat mau melaksanakan hal itu. Hanya saja saya ragu-ragu mengatakannya kepada Mas, mungkin Mas tak akan setuju.”
“Apa itu?”
“Saya mau santet kakak saya itu.”
“Membunuhnya?”
“Tak ada jalan lain, saya kira.”
“Kan begitu itu tidak boleh dalam agama?”
“Dan yang ia perbuat, apa termasuk dibolehkan?”
Aku mencoba mendinginkannya. Kukatakan, tujuan baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Kalau ada orang gila, kita tak usaha ikut-ikut gila, kataku. Ia masih tetap ngotot. Lantas ia bercerita. Bahwa sebelum itu, ia telah berusaha menempuh jalan baik dan damai. Seorang ustad ia minta untuk menasihati kakaknya agar mau membagi harta warisan itu. Kabarnya, menurut ustad itu, kakaknya sudah punya itikad baik untuk melaksanakannya. Namun, setelah sekian lama ia tunggu-tunggu, tak suatu apa pun terjadi. Kembali ia
memanggil ustad itu untuk menasihati lagi kakaknya. “Insya Allah berhasil,” kata ustad. Namun, yang diharapkan tak pernah juga terjadi.
“Ustad itu hanya mengeruk duit saja,” umpatnya padaku.
“Berapa yang ia ambil?”
“Lima ratus ribu. Itu tarif dia dan tak dapat ditawar-tawar. Harus bayar di depan lagi.”
“Ia yang menentukan?”
“Siapa lagi? Ustad apa namanya kalau begitu, Mas?”
“Mungkin ustad calo duit.”
“Bahkan akhirnya ia bicara kecil begitu: kalau saya bersedia memberinya satu miliar dari bagian warisan yang akan saya terima, ia bersedia mengurusnya sampai tuntas. Hebat nggak? Saya pura-pura nggak ngerti saja.”
Cukup prihatin juga melihatnya. Ia tunjukkan kepadaku daftar kekayaan warisan ayahnya itu. Sejumlah toko besar yang terletak di sebelah jalan utama. Sejumlah rumah mewah dengan segala macam perabotnya. Semua itu disewakan atau dikontrakkan. Sejumlah sawah dan perkebunan kopi, kapal laut pengangkut barang dan orang, dan masih banyak lagi. Kagum juga aku dibuatnya. betapa kayanya sang ayah, ini menurut ukuranku, sampai mempunyai harta yang beraneka ragam itu. namun setelah kematiannya, anak-anaknya jadi bersengketa.
“Begini saja,” kataku seperti menemukan sesuatu.
“Bagaimana kalau dituntut saja melalui pengadilan?” Ia tiba-tiba saja tertawa.
“Pengadilan?” katanya dengan nada sinis.
“Ya, kenapa?”
“Sudah juga, Mas. dan menemui kegagalan dan jalan buntu. sebab semua oknum yang berkaitan dengan pengadilan itu sudah tersumpal semua mata dan mulut mereka dengan hanya beberapa juta untuk masing-masing. Kakak saya sudah menyogok mereka semua, hingga semua berpihak kepadanya. Malah saya yang lantas sesudah itu mau disalahkan dan diuber-uber. Hampir saja saya kewalahan dalam hal ini. Bayangkan, saya yang tak bersalah malah diuber-uber terus.”
“Lalu?”
“Ya terpaksa juga saya sumpal polisi yang selalu nguber saya itu, walau tidak dengan jutaan, apa boleh buat.”
“Jadi, saling main sumpal dari sana dan sini,” kataku sambil tersenyum.
“Yang enak yang di tengah-tengah, yang menerima sumpal itu.”
“Dunia sudah benar-benar sinting. Enak dulu waktu masih jadi mahasiswa di luar negeri kan? Tiap harinya hanya pergi kuliah, dan tiap bulan terima beasiswa. Beres, tanpa memikirkan masalah-masalah yang jungkir balik dan
absurd.”
* * *
Lalu diceritakannya padaku tentang kegiatan kakaknya belakangan ini. ia baru saja selesai bikin sebuah masjid yang cukup besar, tak jauh di seberang jalan di depan rumahnya. Juga tiap tahun ia pergi naik haji bersama seluruh keluarganya. Tiap hari kopiah hajinya tak pernah lepas dari kepalanya. Dan sebuah tasbih cukup besar dan panjang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Yang begitu itu toh hanya ngibuli agama dan orang awam saja kan? Kalau ia betul-betul ikhlas menjalankan agama, kan ia harus baik terhadap sesamanya dan terutama sekali terhadap adik-adiknya. Dan harus
melaksanakan hukum waris yang sudah ditentukan juga oleh agama kan? tapi ia menjalankan semua itu hanya untuk kedok belaka. Sementara batinnya penuh keserakahan dan kebusukan.”
“Tapi Tuhan kan tak dapat ditipu?”
“Betul. Tapi Tuhan juga belum mau menolong saya, walau saya dalam keadaan teraniaya. Hampir tiap hari saya salat tahajud, minta agar harta bagian warisan saya itu benar-benar saya miliki. tapi hasilnya nol belaka.”
“Hm, Anda ternyata juga kurang ikhlas. Salat dan yang semacamnya itu memang bagian tugas kita, bukan untuk minta-minta harta. Minta saja keselamatan dunia dan akhirat dengan penuh tulus dan ikhlas, itu sudah
mencakup semuanya. Dan jangan melupakan usaha nyata tentunya. Itulah kewajiban kita.”
Ia masih tampak sebal juga. Dan tak habis-habisnya mengomeli kakaknya dan dunia sekelilingnya yang sudah ia anggap sinting dan gila itu. Ia pulang. Sebelum keluar pagar halaman, sempat kukatakan padanya agar ia
melupakan saja rencananya untuk menyantet kakaknya itu. Ia hanya diam dan tak memberikan komentar. Lama ia tidak muncul lagi ke rumah. Ada barangkali lima minggu. padahal biasanya paling tidak seminggu sekali ia
datang. Aku juga tidak begitu mempedulikannya. Sampai suatu pagi tiba-tiba ia datang seperti terburu-buru dan terengahengah.
“Celaka Mas, celaka besar!”
“Ada apa?” tanyaku.
“Kakak saya.”
“Ya, kenapa?”
“Tadi malam tiba-tiba ia datang ke rumah saya dengan keluarganya. Katanya, belakangan ini ia selalu kedatangan ayah kami dalam mimpi dan selalu dimarah-marahi. ia mulai jadi takut dan mulai jadi sadar.”
“Berita gembira?” Ia mengangguk kecil, tapi wajahnya kelihatan hambar dan malah sedih.
“Kalau begitu, senyum dong. kan itu bukan sesuatu yang celaka.”
“Tapi, tapi benar-benar celaka!”
“Apanya? Kan tak lama lagi Anda akan jadi seorang konglomerat!”
“Ya, tapi ...”
“Tak usah susah dengan harta yang cukup banyak itu. kalau diperlukan, saya bersedia jadi sekretaris anda. kan dapat juga kecipratan!”
“Bukan itu, Mas.”
“Tak usahlah. kita bergembira saja, bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan petunjuk kepada kakak Anda, hingga terbuka hatinya ke jalan yang benar.”
“Ya, tapi ..., tapi saya telah melakukannya.”
“Melakukan apa?”
“Saya ... telah suruh santet kakak saya semalam sebelum ia datang ke rumah. Saya tidak tahu.”
“Apa?” aku terbelalak seketika.
Tidak tahu aku apa yang mesti kulakukan. Aku hanya terhenyak lemas di atas kursi. Dalam benakku, aku hanya berdoa mudah-mudahan santetnya itu tidak mempan atau tidak mandi. itu saja.
2. Cerpen Suminten

                                                                    SUMINTEN

Suminten mau membuka seluruh bajunya di hadapanku. Kukatakan tidak usah.
“Kan Bapak harus liat semua bekas pukulan itu.”
“Tapi tak perlu semuanya. Yang saya lihat sudah cukup meyakinkan.” Ia membetulkan lagi bajunya, lalu duduk.
“Sudah berapa lama kerja sama dia?”
“Setahun lebih.”
“Ya. Kalau tidak dipukuli, paling tidak dicaci maki habis-habisan. Saya seperti tak ada harganya lagi.”
“Oo, ya, Nona siapa?”
“Howeida.”
“Memang belum kawin?”
“Kawin sih sudah, nikah barangkali yang belum,” ia sambil tersenyum. Aku pura-pura kurang memperhatikan. Dapat juga ia melucu dan sedikit nakal. Kusuruh seorang pembantuku untuk membelikan sarapan. Setelah
kutanya ia bilang, sejak dari tadi ia belum makan pagi.
* * *
Kadang-kadang aku memang jengkel juga menangani hal-hal yang seperti itu. Sebenarnya itu bukan tugasku. Tapi karena apartemenku hanya beberapa puluh meter dari kantor, aku yang selalu kebagian getahnya. Hari ini hari libur. Biasanya aku tidur sampai agak siang. Namun tadi pagi masih cukup gelap bel pintuku sudah berdering-dering terus. Bukan itu saja. Karena aku purapura tidak mendengar dan membiarkan bel itu terus berbunyi, akhirnya pintuku juga digedor. Aku bangkit dan membuka pintu.
“Ada apa sih, pagi-pagi buta begini?” kataku jengkel.
“Maaf Tuan, saya terpaksa gedor pintu Anda. Seperti biasa, seorang TKW melarikan diri. Ia ketakutan sekali, dan sebaiknya Anda datang menemuinya walaupun hanya sebentar.”
“Fakih tidak ada?”
“Sudah saya telepon tadi. Tapi kata pembantunya, ia sekeluarga sudah berangkat ke luar kota.”
“Pak Gatot?”
“Juga sama.”
Busyet! Pikirku sambil menggerutu sendiri. Tentu mereka ke pantai. Tak ada sempat lagi dalam musim panas begini. Karena aku satu-satunya yang ada dalam satu kantor, akulah yang dipanggil. Penjaga itu memang tak salah, ia hanya menjalankan tugas.
* * *
Seperti biasa, aku datang sambil bersungut-sungut. Menyuruh orang itu duduk di kursi berhadapan denganku. Tanya namanya, Suminten. Mengapa lari dari majikan, ia bilang, sudah tak tahan lagi karena selalu dicaci maki dan dipukuli. Sudah berapa lama tiba di sini? Baru beberapa bulan. Sebelumnya di Jedah. Di sana semua saudara majikannya juga memukulinya. Bangsat! Pikirku, manusia mereka anggap seperti anjing saja mentang-mentang mereka punya duit berlimpah. Gaji selalu dibayar penuh? Kalau soal gaji sih baik, tetapi sekali lagi saya selalu dipukuli. Lalu ia membuka lengannya, pertama yang kanan,kemudian yang kiri. Menyusul kemudian bahu, lalu punggung, lalu betis kanan dan kiri. Tambah ke atas, lutut, ke atas sedikit, lalu ia mau membuka seluruh tubuhnya dengan begitu polos seperti seorang bocah. Kukatakan tidak usah. Bekas-bekas pukulan itu memang jelas sekali dan seperti juga mengiris-ngiris kulitku. Kusuruh ia istirahat dulu di sebuah kamar di basement kantor yang memang sering digunakan untuk itu, setelah kubelikan makan pagi.
* * *
Aku kembali ke rumah untuk melanjutkan sedikit lagi tidurku yang terganggu tadi. Kasihan juga, pikirku. Usianya yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, tubuhnya yang agak kurus kering dan wajahnya yang begitu melas dan kuyu. Aku ingat ibuku. Sebelum kutinggalkan kantor, kukatakan kepada seorang pembantuku bahwa tak seorang pun boleh menemuinya. Kalau majikannya datang atau siapa pun menanyainya, suruh ia tunggu di ruang tamu, sampai aku datang. Biarkan perempuan itu istirahat secukupnya. Aku pun ingin istirahat juga.
Satu jam kemudian bel pintuku berdering lagi. Paling-paling pembantuku di kantor itu datang lagi. Betul, ia sudah berdiri di situ tatkala pintu kubuka.
“Majikannya datang,” katanya padaku singkat.
“Mau mengambil perempuan itu?”
“Maunya begitu, tapi saya suruh ia menunggu di ruang tamu.”
“Bagus.”
Aku sengaja berlambat-lambat mandi, sarapan, dan berpakaian. Hari ini dan besok adalah hari libur yang aku punya hak untuk menikmatinya. Baru satu jam kemudian, kutemui si majikan itu. Ia seorang wanita yang cukup
menawan, sekitar tiga puluhan usianya, bersama seorang pria yang kukira seorang lelaki Barat.
“Saya Howeida,” katanya memperkenalkan dirinya padaku tatkala kami salaman. “Ini teman saya, Richard.”
“Oo ya, apa yang dapat saya bantu untuk Anda?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Begini. Pembantu saya, Suminten, melarikan diri tadi pagi setelah mencuri sejumlah uang saya.”
“Betul. Ada kira-kira beberapa ratus pound yang ia curi.”
“Saya tanyakan dulu nanti sama dia.”
“Sebab, itu saya minta ia kembali ke rumah bersama saya.”
“Oo, itu yang tidak dapat. Ia tidak mau lagi kembali kepada Anda.”
“Kan ia pembantu saya? Saya telah membayarnya tiap bulan dan saya telah membayar segala sesuatu yang berkenaan dengan keberangkatannya kepada perusahaan yang mengelolanya di negeri Anda”
“Betul. Tapi, Anda telah memperlakukannya tidak manusiawi. Malah Anda telah menganggapnya lebih hina dari binatang. Anda telah memukuli seluruh bagian tubuhnya dengan semena-mena.”
“Itu tidak betul.”
“Ia telah memperlihatkan luka-luka tubuhnya kepada saya.”
Perempuan itu terdiam, wajahnya seketika berubah. Aku pura-pura tidak melihatnya.
“Tapi, babu itu harus kembali kepada nona ini dan Anda tidak boleh menahannya,” tiba-tiba si lelaki bernama Richard itu bangkit dari kursinya. Kuperhatikan sejenak lelaki jangkung dan tampan itu dari kaki sampai
kepala.
“Anda bukan suami nona ini kan?” kataku agak sinis.
“Hm, bukan.”
“Anda warga negara apa?”
“Amerika.”
“Anda tak ada urusan dengan saya dan Anda sama sekali tidak boleh ikut campur masalah kami. Ini urusan saya dengan nona ini!” kataku agak keras.
“Tapi … saya teman Nona Howeida.”
“Teman sih teman, tapi ikut campur sama sekali tidak. Saya dapat mempersilakan Anda keluar dari tempat ini kalau Anda berlaku tidak sopan lagi.”
Pelan-pelan lelaki itu duduk kembali. Bangsat! Pikirku, mentang-mentang dari negara adikuasa lalu merasa dirinya berhak mencampuri urusan semua orang. Betul-betul tidak tahu diri!
“Urusan begini sebaiknya Anda jangan bawa teman cowboy Anda itu ke mari,” lanjutku kepada si nona.
Perempuan itu hanya diam dan memberi isyarat sebentar dengan mataya kepada si jangkung.
“Lantas, dapat saya ketemu dengan pembantu saya itu?”
“Ia masih tidur,” kataku.
Memang ia masih tidur tatkala sesudah itu kuketok pintu kamarnya. Waktu sudah bangun, pertama-tama ia menolak untuk bertemu dengan majikannya itu. Tapi, setelah kukatakan bahwa aku akan menemaninya, ia mau.
“Tadi nona ini mengatakan, bahwa engkau telah mencuri uangnya. Betul?”
“Nona itu menuduh saya begitu?” katanya heran.
“Ya,” kataku. “Itu dikatakannya kepada saya.”
“Ya Gusti, ya Allah. Saya tidak pernah mencuri apa pun dari siapa pun selama hidup saya. Nona itu telah bohong besar!”
“Anda telah berbohong,” kataku pada nona itu. “Ia tidak mencuri uang Nona sepeser pun.”
Perempuan itu seperti tergagap oleh kata-kataku.
“Tapi … kenapa ia lari dari rumah di pagi buta begitu?”
“Sekali lagi ia tidak mencuri apa pun. Agaknya, Anda asal bilang saja.”
“Ya, kenapa ia lari dari rumah saya?”
“Karena ia tidak betah lagi hidup dengan Anda. Anda selalu menyiksa dan memukulinya tanpa perikemanusiaan.”
Agaknya, perempuan itu mulai layu sekarang dan tak setegar seperti tadi. Ketika kutanyakan nama lengkap dan alamatnya di sini, ia segera menjawab tanpa menaruh curiga apa pun.
“Tapi … saya dapat mengobatinya. Saya seorang dokter.”
“Kami di sini juga punya seorang dokter.”
“Dan saya … berjanji tak akan memukulinya lagi.”
“Ia sudah tidak mau lagi kepada Anda. Dokter kami dapat membuktikan dan menjadi saksi di pengadilan tentang penyiksaan itu. Saya dapat hari ini langsung ke kantor polisi melaporkan hal itu dan Anda dapat saya jebloskan
ke dalam penjara!” kataku keras dan tanpa berkedip.
“Oo, tidak, tak usah sampai ke sana!” perempuan itu tiba-tiba saja tertunduk pucat. Lama juga kami berdiam diri. Lelaki bernama Richard yang suka sok itu juga hanya diam dan memandangi perempuan itu dengan rasa iba. Setelah beberapa lama, nona itu mengangkat wajahnya dan katanya:
“Dapat saya berbicara empat mata dengan Tuan?”
Aku tidak segera dapat memutuskan. Mungkin, perempuan itu telah begitu ketakutan dan menyesali apa yang pernah ia lakukan. Kukatakan kepada Suminten untuk sebentar menunggu di situ. Kuajak nona itu berbicara di
kantorku. Ternyata kedua mata perempuan itu telah berkaca-kaca tatkala ia mulai bicara lagi di hadapanku.
“Tak saya sangka semuanya akan berakhir begini,” katanya lirih. “Saya menyesal sekali atas segala apa yang telah pernah saya perbuat. Tak usahlah Anda menyeret saya ke polisi dan ke pengadilan. Saya berjanji tak akan
melakukannya lagi. Saya rela melepas Suminten pulang ke negerinya kalau memang itu yang ia inginkan. Saya bersedia membayar semua ongkos pulangnya, membayar semua gajinya yang tersisa walau ia tidak lagi bekerja
pada saya. Saya bersedia membayar ganti rugi atas semua perlakuan saya yang tidak pantas, dan saya juga bersedia membayar semua ongkos pengobatannya. Itu sama sekali tidak dapat saya bayangkan. Saya sangat
menyesal sekali, demi Allah, atas segala kelakuan saya yang tidak terhormat itu.”
Agaknya nona itu telah begitu menyesali dirinya. Kukatakan bahwa esok pagi kalau tak salah ada pesawat yang menuju Jakarta. Suminten dapat naik pesawat itu, kataku.
“Oo ya, telepon saja pesan tempat sekarang juga. Hm, apa ia akan bawa cek atau uang kontan saja?”
“Saya kira ia tidak mengerti apa itu cek dan sebagainya. Lebih baik uang tunai saja.”
“Kalau begitu siang nanti saya kembali lagi, saya tidak bawa uang tunai. Akan saya ganti lima ribu dolar untuk sisa gajinya, lima ribu dolar untuk kerugian moral yang ia derita dan lima ribu lagi untuk ongkos pengobatannya nanti. Saya tidak tahu apa itu cukup, tolong Anda katakan pada saya.”
“Mungkin sudah cukup. Tapi, akan saya tanyakan juga Suminten nanti. Ia yang punya urusan dalam hal ini.”
Meninggalkan kantorku dan ruang tamu juga, perempuan itu tak banyak bicara seperti semula. Ia tampak begitu murung dan menundukkan kepala. Ketika kutanyakan pada Suminten tentang jumlah uang yang ditawarkan, ia
hanya bilang:
“Cukup sekali, Pak. Kasihan, ia tampak sedih sekali tadi. Sebetulnya, ia saya anggap seperti anak saya sendiri.”
“Tak ingin tambah lagi?”
“Ah, sudah cukup. Oo ya, Bapak apakan ia tadi kok seperti lantas lunglai dan nurut sama Bapak?”
Aku tersenyum. Lalu kukatakan padanya dengan suara agak pelan, bahwa tadi ia telah kuancam untuk kujebloskan ke dalam penjara. Suminten tiba-tiba ketawa kecil cekikikan. Kasihan ah,” katanya. “Sebetulnya ia seorang yang baik. Mudah-mudahan juga semua perbuatannya yang lain menjadi baik juga. Ia datang ke sini untuk belajar lagi, untuk ambil spesialis. Itu yang pernah saya dengar dari salah seorang adiknya.”
* * *
Betul, siang itu sang nona cantik itu datang lagi, meski tidak bersama si Richard. Ia membawa uang tunai ratusan dolar dalam sebuah amplop dan diserahkannya kepadaku.
“Tak usah segan-segan,” katanya padaku.”Kalau uang ini memang masih kurang, katakan terus terang kepada saya.” Kukatakan terima kasih. Suminten juga telah saya tanya, kataku, dan ia bilang cukup. Perempuan itu juga menyerahkan sebuah tiket pesawat yang agaknya telah ia konfirmasikan.
* * *
Esok paginya kuantarkan Suminten ke bandara. Biasanya, aku tidak pernah mengantarkan seorang TKW yang pulang. Itu sama sekali bukan urusanku. Namun ini kurasa lain. Aku ingat ibuku.
“Uang sebanyak itu harap kausimpan baik-baik, misalnya di bank,” kataku padanya sebelum meninggalkan ruang tunggu.” Atau kaubelikan sawah atau kebun atau apalah yang berguna dan dapat berkembang.”
“Ya,” katanya
“Oo ya, memangnya Nona Howeida itu teman baik si Richard? tanyaku lagi.
“Kemarin siang lelaki itu tidak ikut lagi waktu Nona Howeida menyerahkan uang untukmu itu.”
“Tapi … Tuan Richard itu sering bermalam di flat Nona Howeida dan saya tahu sendiri mereka tidur dalam satu kamar.”
“Oo, ya?”
“Sebab itu saya katakan kemarin, mudah-mudahan kelakuan nona itu makin lama jadi makin baik. Semoga saja ia insaf, seperti sikapnya terhadap diri saya.”
“Dan yang jadi sopirnya, itu siapa?”
“Oo, itu sih Domo, orang sekampung saya, walau rumahnya terletak di seberang sungai. Ia juga …”
“Kenapa?”
Suminten ketawa kecil cekikikan, cukup lama juga.
“Ia …, ia juga suka dipanggil oleh si nona untuk menemaninya sebelum kenal Richard.”
“Oo, ya?”
Suminten ketawa cekikikan lagi, dan aku sengaja membiarkan ia tenggelam dalam cerita yang begitu menggelitikinya. Secara garis besar, cerpen M. Fudali Zaini tersebut bertemakan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan. Setiap cerpen mempunyai tema yang tidak sama. Tema cerpen dapat berupa kefanaan manusia, hubungan antarmanusia, dan bermacam penyakit psikososial yang diidap oleh banyak orang di Indonesia.
Penggunaan bahasa yang sederhana, seperti bahasa sehari-hari menjadikan cerpen mudah dipahami. Tokoh-tokohnya pun digambarkan secara sederhana, yaitu tokoh yang sering kita jumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada nilai-nilai atau unsur kehidupan. Pada cerpen M. Fudoli Zaim pun terdapat nilai-nilai kehidupan, di antaranya nilai religi atau agama, nilai sosial budaya,
dan nilai pendidikan atau ajaran moral.

Sumber : http://www.crayonpedia.org/mw/Cara_Menemukan_Unsur-Unsur_Cerpen_dan_Implementasinya_9.1

0 comments:

Post a Comment