Sunday, November 9, 2014

VARIASI DAN VARITAS BAHASA

A. Perbedaan Variasi dan Varitas Bahasa

Variasi bahasa dan varitas bahasa tidaklah sama. Dalam variasi bahasa,dikaji penggunaan bahasa yang tidak sama serta dialek yang tidak sama. Misalnya, bahasa Batak, ahasa Minang yang ada di Indonesia. Sedangkan varitas bahasa, mengkaji tentang pebedaan bahasa dan perbedaan dialeknya. Misalnya, Bahasa Minang dialek Payakumbuh.

B. Pengklasifikasian Varitas Bahasa
1. Varitas Bahasa dari Segi Penuturnya

a. Idiolek
Idiolek adalah varitas bahasa yang bersifat peseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai varitas bahasanya, atau idioleknya masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya.
Namun yang paling dominan adalah warna suara, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya.
Mengenali idiolek seseorang dari bicaranya memang lebih mudah daripada melalui karya tulisnya. Masing-masing orang memiliki idiolek yang berbeda-beda. Misalnya, Presiden Soeharto mengatakan “ken”.

b. Dialek
Dialek adalah varitas bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Karena dialek ini didasarkan pada wilayah atau area temapat tingal penutur, maka dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi. Para penutur dalam suatu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memilki kesamaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada suatu dialek, yang berbeda dengan kelompok penutur lain, yang berada dalam dialeknya sendiri dengan ciri lain yang menandai dialeknya juga. Misalnya, Si A bahasa Minang dialek Payakumbuh.

c. Kronolek
Kronolek atau dialek temporal adalah varitas bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial apada masa tertentu. Misalnya, bahasa Indonesia tahun tiga puluhan, lima puluhan, tujuh puluhan. Karena bahasa itu berubah dan selalu berkembang, maka hadirlah kronolek.

d. Sosiolek
Sosiolek atau dialek sosial adalah varitas bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya.
Dalam sosioloinguistik biasanya varitas inilah yang paling banyak dibicarakan karena varitas ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, seks, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan ini biasanya bukanlah berkenaan dengan isinya, isi pembicaraan, melainkan perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis, dan juga kosakata.
Contoh:
1) Bahasa yang digunakan ibu-ibu berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
2) Bahasa yang digunakan koran Haluan berbeda dengan bahasa yang digunakan koran Media Indonesia.

2. Varitas Bahasa dari Segi Sosial Para Penuturnya
a. Akrolek
Akrolek adalah ragam bahasa yang dianggap lebih tinggi dan bergengsi daripada ragam sosial lainnya. Misalnya, bahasa Bagongan, yaitu varitas bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan keratin Jawa.   
b. Basilek
Basilek adalah ragam bahasa yang dianggap kurang bergengsi atau dipandang rendah dibandingkan dengan ragam-ragam sosial lainnya. Misalnya, bahasa Jawa “Krama Ndesa”. Atau
bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, Mandarin, dan Arab yang dinilai lebih rendah dibanding bahasa Inggris.
c. Vulgar
Vulgar adalah varitas sosial yang ciri-cirinya digunakan oleh kelompok yang kurang terpelajar atau kurang berpendidikan. Misalnya, bahasa di Eropa dianggap bahasa vulgar oleh golongan intelek Romawi yang menggunakan bahasa Latin dalam segala kegiatan mereka.
d. Slang
Slang merupakan varitas bahasa yang bersifat khusus atau rahasia yang hanya diketahui oleh golongan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang selalu berubah-ubah. Karena slang ini bersifat kelompok dan rahasia, maka timbul kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasianya para pencoleng dan penjahat. Padahal sebenarnya tidaklah demikian.
Faktor kerahasiaan ini menyebabkan kosakata yang digunakan dalam slang seringkali berubah. Artinya, slang bersifat temporal, karena slang pada suatu saat akan dilupakan dan muncul slang lain yang lebih baru. Jadi, ciri khas slang adalah bidang kosakata, bukan fonologis tau gramatikal (morfologis dan sintaksis). Misalnya, prokem yang kosakatanya berubah-ubah.
e. Kolokial
Kolokial merupakan varitas bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berarti bahasa percakapan bukan bahasa tulis. Misalnya, ndak ada, prof., dok.
f. Jargon
Jargon (= Inggris:Jargon) adalah pemakaian bahasa dalam setiap bidang kehidupan. Setiap bidang keahlian, jabatan, lingkungan pekerjaan, masing-masing mempunyai bahasa khusus yang sering tidak mengerti oleh kelompok lain. Artinya, jargon merupakan varitas bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial tertentu secara terbatas. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya.
Namun, ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. Misalnya, Produser ada kata-kata cut, action,dan lain sebagainya.
g. Argot
Argot merupakan varitas bahasa yang digunakan secara terbatas dan profesi tertentu yang bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata. Misalnya, bahasa pencuri; tape adalah korban yang barangnya dicuri.
h. Ken
Ken adalah variasi sosial tertentu yang bernada memelas, dibuat-buat, merengek-rengek, dan penuh dengan kepura-puraan. Ken (= cant) ialah sejenis slang, tetapi sengaja dibuat untuk merahasiakan sesuatu kepada kelompok lain. Pada hal muda-mudi hal ini terasa sekali. Misalnya, bahasa pengemis.
i. Glosolalia
Glosolalia adalah varitas ujaran yang dituturkan ketika orang sedang kesurupan (trance). Varitas bahasa ini lazim ditemukan pada bahasa dukun ketika bekerja, misalnya mengobati orang sakit.
j. Rol
Rol adalah varitas bahasa yang dipergunakan seseorang ketika mengemban peran tertentu dalam suatu komunikasi.

3. Varitas Bahasa dari Segi Pemakaian/fungsional/register
a. Bidang Sastra
Kalau dalam bahasa umum orrang mengungkapkan sesuatu secara lugas dan polos, tetapi dalam ragam bahasa sastra akan diungkapakan secara estetis. Misalnya, dalam bahasa umum orang akan mengatakan “ Saya sudah tua” tetapi dalam bahasa sastra Ali Hasjmi, seorang penyair bahhasa Indonesia mengatakan Dalam bentuk puisi.
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
 
b. Bidang Jurnalistik
Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalistik harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karean keterbatasan ruang (dalam media cetak) dan keterbatasan waktu (dalam media elektronika).
Dalam bahasa Indonesia ragamm jurnalistik dikenal dengan sering ditanggalkannya awalan me- atau awalan ber- yang dalam ragam bahasa baku harus digunakan. Umpamanya kalimat “Gubernur tinjau daerah banjir” (dalam bahasa baku berbunyi “Gubernur mengunjungi daerah banjir”).

c. Bidang Militer
Ragam bahasa miiliter dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas, sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang penuh dengan disiplin dan instruksi. Ragam militer di Indonesi dikenal dengan cirinya yang memerlukan ketegasan dan keringkasan yang dipenuhi dengan berbagai singkatan dan akronim.

d. Bidang Ilmiah
Dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas dari keambiguan, serta segala macam metafora dan idiom. Bebas dari segala keambiguan karena bahasa ilmiah harus memberikan informasi keilmuan secara jelas, tanpa keraguan akan makna, dan terbebas dari kemunkinan tafsiran makna yang berbeda.

4. Varitas Bahasa dari Segi Keformalan
a. Ragam Beku (frozen/oratorical)

Merupakan varitas bahasa dalam kondisi khidmat dan upacar-upacara resmi. Biasanya dipergunakan oleh pembicara yang profesional, tukang pidato sehingga orang tertarik dengan pembicaraannya. Kalimat-kalimat yang menggunakan kata bahwa, maka, hatta, dan sesungguhnya menandai ragam beku aritas tersebut.
Susunan kalimat dalam ragam beku biasanya panjan-panjang, bersifat kaku;kata-katnya lengkap. Dengan demikian para penutur dan pendengar ragam beku dituntut keseriusan dan perhatian penuh. Misalnya, bahasa yang digunakan pada upacara kenegaraan, tata cara pengambilan sumpah, akte notaries, bahasa UUD, bahasa khotbah, dan surat-surat keputusan.

b. Ragam Bahasa Resmi (formal/deliberative)
Merupakan varitas bahasa dalam situasi resmi. Ragam resmi digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan sebagainya. Pola dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai suatu standar.
Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi resmi, dan tidak dalam situassi yang tidak resmi. Jadi, percakapan antar teman yang sudah karib atau percakapan dalam keluarga tidak menggunakan ragam resmi ini. Tetapi pembicaraan dalam acara peminangan, pembicaraan dengan seorang dekan di kantornya, atau diskusi dalam ruang kuliah adalah menggunakan ragam resmi ini. Ragam resmi ditujukan kepada pendengar untuk memperluas pembicaraan yang disengaja.
Baik oratorikal maupun deliberative sama-sama bersifat monolog.

c. Ragam Usaha (Consultative)
Merupakan varitas bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorienasi kepada hasil dan produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional.
Wujud ragam bahasa ini berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai. Ragam ini terdapat dalam transaksi perdagangan di mana terjadi dialog karena orang membutuhkan persetujuan antara keduanya.

d. Ragam Santai (Kasual)
Merupakan varitas bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya.
Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk kata atau ujaran yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipengaruhi unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Demikian juga dengan struktur morfologis dan sintaksisnya. Seringkali struktur morfologis dan sintaksis yang normatif tidak digunakan. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan di anatar kedua pihak yang berkomunikasi.

e. Ragam Akrab (Intimate)
Merupakan varitas bahasa yang digunakan dalam hubungan dekat antara penutur dan lawan tutur seperti antar anggota keluarga atau antar teman yang sudah karib. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, atau pendek-pendek, dan dengan artikulasi yang seringkali tidak jelas. Hal ini terjadi karena di antara partisipan sudah ada saling pengertian dan memiliki pengetahuan yang sama.
(Chaer dan Agustina, 2004)

5. Varitas Bahasa dari segi Sarana
a. Ragam Lisan

Merupakan varitas bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara berbicara.
Contoh: Adanya dialog antara si A dan si B secara lisan.
b. Tulis
Merupakan varitas bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau sesuatu dengan cara memakai alat tulis.
Contoh: Pengumuman tertulis.

C. Aplikasi Dalam Pembelajaran
Variasi dan varitas bahasa sangat penting dalam proses pembelajaran. Sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, maka seorang guru harus mampu mnegetahui keragaman bahasa tersebut. Dari sini jugalah kesadaran berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat perlukan. Penerapan bahasa Indonesia sebagai penyatu seluruh variasi dan varitas bahasa yang ada di Indonesia sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.
Variasi bahasa dari segi sarana bisa dikatakan nyawa dari proses pengajaran itu sendiri. Dengan menggunakan bahasa lisanlah interaksi antar siswa dan guru bisa terjalin. Belum lagi bahasa tulis yang juga menjadi nafas pengajaran itu.
Selain itu variasi bahasa dari segi keformalan juga sangat penting dalam pendidikan. Pengajaran tentang penggunaan bahasa sesuai dengan kondisi. keformalan adalah bekal bagi siswa dalam dunia pendidikan maupun kehidupannya nanti.
 
SUMBER
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik:Perkenalan Awal. Jakarta:Rineka Cipta.
Nursaid. 200. Sosiolinguistik (Bahan ajar). Padang:Universitas Negeri Padang.
Pateda, Mansoer. 2000. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa Bandung.
Tressyalina. . Sosiolinguistik (Bahan Ajar). Padang:UNP.

Pengertian singkat Dialek, Idiolek dan Sosiolek

Berdasarkan penutur, pembicara, atau pemakainya, ragam bahasa dibedakan:
1.    Ragam regional atau dialek
Dialek adalah varian bahasa yang disebabkan oleh karena perbedaan daerah.

2.    Ragam pribadi atau idiolek
Idiolek adalah varian bahasa yang disebabkan oleh karena kebiasaan atau cara berbahasa yang khas pada
seseorang. Idiolek merupakan ciri khas kebahasaan seseorang.

3.    Ragam sosial atau sosiolek
Sosiolek adalah varian bahasa yang disebabkan oleh karena perbedaan kelompok sosial tertentu dalam masyarakat, seperti kelompok cendekiawan, pengusaha, pegawai, remaja, orang tua, dan lain sebagainya.

4.    Ragam temporal
Ragam temporal adalah varian bahasa yang dipakai dalam kurun waktu tertentu seperti bahasa melayu Sri Wijaya, bahasa melayu Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, dan lain sebagainya.

Friday, October 24, 2014

BAHASA SEBAGAI FAKTA SOSIAL


MAKALAH
BAHASA SEBAGAI FAKTA SOSIAL


MAKALAH




Oleh :
M. Ainul Fikri
21402071036




 



UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
TAHUN 2014



 
A.  PENGANTAR
            Bahasa adalah susunan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang digunakan sebagai alat komunikasi. Para ahli bahasa telah banyak melakukan kaajian bahasa dari berbagai sudut pandang. dari sudut pandang bahasa sebagai bunyi, misalnya, dapat dikaji bagaimana bunyi dihasilkan, bagaimana bunyi bunyi bahasa membedakan makna sehingga muncul cabang ilmu bahasa (linguistik) yang disebut fonetik dan fonologi. Dalam taraf selanjutnya bahasa juga dapat dikaji dari sudut pandang pembentukan kata, dan bagaimana kata kata disusun menjadi kalimat yang bermakna, sehingga muncul cabang ilmu bahasa lainnya yang disebut Morfologi, Sintaksis, dan Semantik. Apapun sudut pandang kajian bahasa, pada akhirnya harus disadari bahwa bahasa adalah alat komunikasi individu individu dalam kelompok sosial/masyarakat. Dengan kata lain bahasa adalah fakta sosial. Kajian yang sangat terkenal mengenai bahasa sebagai fakta sosial adalah kajian yang dilakukan oleh Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai bapak linguistik moderen
            Pendekatan modern terhadap kajian bahasa dilakukan sejak terbitnya buku Course de Linguistique Generale (1916) karya sarjana Swiss, Ferdinan de Saussure. Beliau dianggap sebagai pelopor linguistik modern dan linguis pertama yang mampu menjawab pertanyaan ontologis yang berhubungan dengan linguistik. Linguistik tidak perlu mengambil paradigma dari cabang ilmu lain sebagaimana yang telah dilakukan pada kajian-kajian linguistik sebalumnya. Pemikiran de Saussure inilah yang menjadi landasan pijak pengembangan linguistik selanjutnya, baik tradisional maupun struktural.
            Asumsi Saussure yang terkenal dan merupakan dasar kajiannya adalah bahwa bahasa merupakan realitas sosial. Sebagai realisasi asumsi tersebut, kajian pertama yang dilakukan Saussure adalah kajian terhadap struktur bahasa. Hal ini dilakukan karena Saussure menganggap bahwa bahasa sebagai satu struktur sehingga pendekatannya sering disebut Structural Linguistics. Kedua, Saussure mengembangkan pikirannya ke dalam enam dikotomi tentang bahasa, yaitu (a) dikotomi sinkronik dan diakronik, (b) dikotomi bentuk (form) dan substansi, (c) dikotomi Signifian dan signifie, (d) dikotomi langue dan Parole, (e) dikotomi individu dan sosial, dan (f) hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.
                      


B. SINKRONIK DAN DIAKRONIK
1. Sinkronik                
                  Kata sinkronis berasal dari bahasa Yunani syn yang berarti dengan, dan khronos yang berarti waktu, masa. Dengan demikian, linguistik sinkronis mempelajari bahasa sezaman. Fakta dan data bahasa adalah rekaman yang diujarkan oleh pembicara, atau bersifat horisontal. Linguistik sinkronis adalah mempelajari bahasa pada suatu kurun waktu tertentu, misalnya mempelajari bahasa Indonesia di masa reformasi saja.
                  Sinkronis dapat dipahami seperti dalam bahasa Perancis, tekanan selalu terletak di suku kata terakhir, kecuali kalau suku kata terakhir mengandung e pepet (seperti “ə”). Ini adalah fakta sinkronis, yakni suatu hubungan antara himpunan kata bahasa Perancis dan tekanan, tetapi fakta ini juga berasal dari keadaan masa lalu (diakronis).
                  Saussure mengemukakan bahwa kajian bahasa secara sinkronis amat perlu, meskipun beliau banyak berkecimpung dalam kajian diakronis. Bahkan baginya, kajian sinkronis bahasa mengandung kesistematisan tinggi, sedangkan kajian diakronis tidak. Bahkan bagi penggunanya, sejarah bahasa tidak memberikan apa-apa kepada pengguna bahasa mengenai cara penggunaan bahasa. Ada yang perlu bagi pengguna bahasa, yaitu état de langue atau suatu keadaan bahasa. Suatu keadaan bahasa terbebas dari dimensi waktu dalam bahasa yang justru memiliki watak kesistematisan.
                  Kajian sinkronis justru lebih serius dan sulit. Sistem keadaan bahasa ‘sinkronik’ seperti sistem permainan catur. Setiap buah catur (setara dengan suatu unit bahasa) memiliki tempat tersendiri dan memiliki keterkaitan tertentu dengan buah lain, dan kekuatan serta pola gerak/jalan tersendiri. État de langue adalah jaringan keterkaitan yang menentukan nilai suatu elemen benar-benar tergantung, langsung atau tak langsung pada nilai elemen-elemen yang lain.

2. Diakronik
                  Kata diakronis berasal dari bahasa Yunani, dia yang berarti melalui, dan khronas yang berarti waktu, masa. Dengan demikian, yang dimaksud dengan linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. Studi diakronis bersifat vertikal, misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia yang dimulai sejak adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai kini.
                  Linguistik diakronis adalah semua yang memiliki ciri evolusi. Ada berbagai contoh untuk melukiskan dualisme intern (sinkronis dan diakronis), misalnya, kata Latin “cripus” (berombak, bergelombang, keriting), menimbulkan kata dasar Perancis crép-, yang membentuk kata kerja crépir ‘melepa’, dan décrépir, ‘mengupas lepa’. Pada suatu waktu, bahasa Perancis meminjam kata Latin décrepitus, ‘usang karena usia’, untuk membentuk décrépit; tetapi ternyata orang melupakan asal kata ini.
Contoh yang lain terdapat dalam bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman tinggi kuno, kata jamak gast, ‘tuan rumah’, semula adalah gasti, dan jamak hant ‘tangan’ semula adalah hanti, dll. Akan tetapi, di kemudian hari, i- tersebut menjadi umlaut yang mengakibatkan a menjadi e dalam suku kata terdahulu: gasti menjadi gesti, hanti menjadi henti, tetapi kemudian (lagi) i- kehilangan bunyinya dan menghasilkan gesti menjadi geste, dst. Akibatnya, sekarang terdapat kata Gäst: Gaste, Händ: Hande, dan sejumlah besar kelompok kata yang menampilkan bentuk jamak dan tunggal. Hal ini adalah dimensi linguistik diakronis. Diakronis tidak mengubah sistem karena kata yang berubah pun adalah sistem dalam bentuk yang lain dengan sistem sebelumnya. Perubahan kata terjadi di luar kemampuan siapa pun.
      Ada kasus khusus dalam linguistik sinkronis dan diakronis, contoh: pouter dalam bahasa Yunani berarti kuda betina, sekarang pengertiannya berubah menjadi “tiang penunjang” (jadi maknanya berubah). Kata tersebut tetap, tetapi pengertian masyarakat akan kata itu yang berubah. Jadi fakta historis atau diakronis mengikuti fakta sinkronis. Oleh karena itulah, sinkronis menganggap gast beroposisi dengan gäste, gebe beroposisi dengan gib, dst, sedangkan diakronis menganggap gast berubah menjadi gaste. Diakronis hanya hadir dalam parole karena segala perubahan pertama kali dilontarkan individu sebelum masuk dalam kelaziman. Misalnya, bahasa Jerman memiliki: ich war, wir waren, sedangkan bahasa Jerman kuno sampai abad XVI menafsirkannya: ich was, wir waren dan dalam bahasa Inggris: I was, we were. Nah, bagaimana terjadinya substitusi dari war ke was? Saussure mengatakan, pasti ada beberapa orang yang terpengaruh oleh waren, kemudian menciptakan war dengan jalan analogi.  Ini adalah fakta dalam parole. Karena kata tersebut sering diulang dan diterima oleh masyarakat, maka kata tersebut menjadi fakta dalam langue.
                  Jika seseorang hanya melihat sisi diakronis bahasa, maka yang ia lihat bukan lagi langue, melainkan sederet “peristiwa” yang notabene merupakan parole. Linguistik diakronis akan menelaah hubungan-hubungan di antara unsur-unsur yang berturutan dan tidak dilihat oleh kesadaran kolektif yang sama, dan yang satu menggantikan yang lain tanpa membentuk sistem di antara mereka. Sebaliknya, linguistik sinkronis akan mengurusi hubungan-hubungan logis dan psikologis yang menghubungkan unsur-unsur yang hadir bersama dan membentuk sistem, seperti dilihat dalam kesadaran kolektif yang sama.
                        Gagasan saussure dapat dipakai acuan baru dalam studi bahasa, bahwa kajian linguistik hendaknya dilakukan secara diakronik dan sinkronik, karena untuk dapat memotret  pada suatu waktu tertentu diperlukan pemahaman tentang bahasa itu untuk satu rentangan waktu. Sebagai pemakai, bahasa dapat ditelaah dari “keberadaan” dari bahasa itu sendiri tanpa terikat oleh rentangan waktu yang berbeda. Kajian diakronik dianggap terlalu sederhana karena hanya mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang terpisah-pisah, sedangkan kajian sinkronik dipandang lebih rumit karena harus mendeskripkan bahasa itu sendiri.
Dikotomi antara bentuk dan substansi
            Saussure menekankan bahwa kajian linguistik harus ditinjau dari segi bentuk dan substansi bagi saussure substansi penting, namun bentuk lebih penting. Oleh karena itu, dalam kajian bahasa nilai suatu unsur (langsung atau tidak langsung) sangat bergantung pada unsur lain.

C. LANGUE DAN PAROLE
            Gagasan Saussure tentang fakta sosial, langue, dan parole, menjadi pilar-pilar konsepnya mengenai struktur gagasan yang amat kontroversial. Para bahasawan tertarik berkomentar. Pendekatan Saussure kembali mengemuka ketika dihadapkan pada pandangan Noam Chomsky. Pandangan Chomsky (1964) yang amat berpengaruh adalah yang membedakan kompetence dari performance. Pembedaan tersebut tampak ada kemiripan dengan pembedaan langue dan parole oleh Saussure. Bahkan, Chomsky sendiri menyamakan konsep linguistic competence yang diperkenalkannya dengan konsep langue. Namun, sesungguhnya kedua konsep tersebut berbeda.
            Konsep langue dan parole menyisakan masalah besar dalam sintaksis. Meskipun tidak disebut dalam bukunya, unit-unit (abstrak) yang bermakna sepeti morfem dapat dimasukkan ke dalam langue, masuk dalam sistem, disediakan untuk dipakai dengan jumlah terbatas. Morfem disediakan dalam langue dan dapat digunakan untuk membedakan suatu morfem dengan morfem yang lain. Sintaksis juga unit abstrak bermakna. Kita perlu membedakan dan memilih sintaksis satu dari sintaksis yang lain ketika hendak berkomunikasi. Bedanya dari morfem adalah bahwa jumlah struktur kalimat – sintaksis – tidak terbatas dan bisa terus bertambah. Jika demikian, sintaksis tidak masuk dalam langue, melainkan dalam parole.
 1. Langue
            Langue mengacu pada sistem bahasa yang abstrak. Sistem ini mendasari semua ujaran dari setiap individu. Langue bukanlah suatu ujaran yang terdengar, tulisan yang terbaca, melainkan suatu sistem peraturan yang umum dan mendasari semua ujaran nyata. Langue adalah totalitas dari sekumpulan fakta bahasa yang disimpulkan dari ingatan pemakai bahasa dan merupakan gudang kebahasaan yang ada dalam otak setiap individu.
            Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa dan memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue adalah pengetahuan dan kemampuan berbahasa yang bersifat kolektif dan dihayati bersama oleh semua warga masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Eksistensi langue memungkinkan adanya parole, seperti yang kita ketahui bahwa parole adalah wicara aktual, cara pembicara menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dirinya. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue.
            Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya apabila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu. Langue telah dan dapat diteliti; langue juga bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Tanda bahasa tersebut dapat menjadi lambang tulisan yang konvensional.
            Langue tidak bisa dipisahkan antara bunyi dan gerak mulut. Langue juga dapat berupa lambang-lambang bahasa konkret; tulisan-tulisan yang terindera dan teraba (terutama bagi tuna runggu). Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Contoh: Pergi! Dalam kata ini, gagasan kita adalah ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi! dapat juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dengan abjad tuna runggu, atau dengan simbol atau dengan tanda-tanda militer.
 

            Langue seperti permainan catur, apabila buah caturnya dikurangi akan berubah dan bahkan permainan akan kacau, demikian halnya dalam langue. Jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan kacau balau juga. Misalnya: saya makan nasi, jika kalimat ini diubah menjadi: nasi makan saya, kelihatannya kalimat tersebut, janggal. Atau dalam bahasa Latin: laudate (terpujilah), tentu jika kita mengubahnya tidak sesuai dengan aturan main dalam bahasa Latin, akan kacau balau. Langue tidak tergantung pada aksara. Misalnya, kata: tōten, fuolen dan stōzen; kata-kata ini di kemudian hari berubah menjadi tölen, füolen dan stōzen. Perubahan itu dari mana? Nah, langue tidak mau tahu dengan perubahan itu, yang penting apa yang telah dipakai secara konvensional, ya itulah langue.
            Langue perlu agar parole dapat saling dipahami; dan parole perlu agar langue terbentuk. Dengan kata lain, secara historis, fakta parole selalu mendahului langue. Bunyi kata: “pergi!” adalah parole, tetapi ia juga termasuk langue karena sistem tanda ada di sana dan maknanya pun ada. Langue hadir secara utuh dalam bentuk sejumlah guratan yang tersimpan di dalam setiap otak; kira-kira seperti kamus yang eksemplarnya identik (fotocopy), yang akan terbagi di kalangan individu. Jadi, langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu.
            Langue bersifat kolektif: bersifat homogen, bahasan konvensional. Rumusnya: 1 + 1 + 1 + 1….= 1. Artinya, kata yang diucapkan oleh individu, diucapkan secara sama oleh orang banyak, begitu juga dengan maknanya, semua masyarakat bahasa tahu. Menurut Alwasilah (1983), langue adalah tata bahasa + kosakata + sistem pengucapan. Langue bersifat stabil dan sistematis.
            Terbentuknya langue juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya: penjajahan (bahasa Penjajah mempengaruhi bahasa yang dijajah). Lebih jauh Saussure berpendapat bahwa langue diterima dengan pasif, tanpa memperkarakan dari mana langue tersebut berasal. Misalnya, kata “pinjam”: kita tidak perlu mengetahui dari mana kata ini berkembang dan kita tidak perlu tahu dari bangsa (suku) mana asalnya. Kata “pinjam” ini diketahui oleh semua masyarakat bahasa.
            Walaupun kita tidak tahu dari mana asalnya, toh tidak menghambat kita untuk mempelajarinya. Harus diingat bahwa langue berubah, tetapi para penutur tidak mungkin mengubahnya; atau langue tertutup bagi interferensi, tetapi terbuka bagi perkembangan. Tanda-tanda yang membentuk langue bukan benda abstraksi, melainkan benda konkret. Contoh: pohon (yang konkret, ada batangnya, bisa kita lihat) dan “pohon” yang lain adalah bahasa yang terbentuk yang kita ucapkan, kita artikulasikan. Wujud bahasa hanya ada karena ada kerjasama antara penanda dan petanda. Dalam langue, sebuah konsep adalah kualitas dari substansi bunyi seperti suara tertentu merupakan kualitas dari konsep. Maka, konsep rumah, putih, melihat, merupakan bagian dari psikologi. Konsep itu hanya menjadi wujud bahasa jika diasosiasikan dengan gambar akustik (bisa dalam bentuk tulisan juga dalam bentuk bunyi).

2. Parole
            Parole adalah bahasa tuturan, bahasa sehari-hari. Intinya, parole adalah keseluruhan dari apa yang diajarkan orang, termasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur dan pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas juga. Parole adalah perwujudan langue pada individu. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Bahasa parole misalnya, gue kan ga suka cara kayak gitu, loo emangnya siape?, dst. Jadi, parole adalah dialek. Parole bukan fakta sosial karena seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar, termasuk kata apapun yang diucapkan oleh penutur; ia juga bersifat heterogen dan tak dapat diteliti. Dalam parole harus dibedakan unsur-unsur berikut.

            Pertama, kombinasi-kombinasi kode bahasa (tanda baca) yang dipergunakan penutur untuk mengungkapkan gagasan pribadinya. Misalnya, perang, kataku, perang! Kalimat ini jika diucapkan oleh orang yang sama pun, kata Saussure, ia menyampaikan dua hal yang berbeda pada pelafalan (kata perang pertama dilafalkan secara berbeda dengan kata perang kedua).
            Kedua, mekanisme psikis-fisik yang memungkinkan seseorang mengungkapkan kombinasi-kombinasi tersebut. Parolelah yang membuat langue berubah: kesan-kesan yang kita tangkap pada saat kita mendengar orang lainlah yang mengubah kebiasaan bahasa kita. Jadi, antara langue dan parole saling terkait; langue sekaligus alat dan produk parole. Bersifat individu: semua perwujudannya bersifat sesaat dan heterogen dan merupakan perilaku pribadi. Parole dapat dirumuskan: (1’ + 1’’ + 1’’’ + 1’’’’…..). artinya, kata yang sama pun akan dilafalkan secara berbeda, baik orang yang sama maupun oleh banyak orang.



D. SIGNIFIANT DAN SIGNIFIE
1. Signifiant
            Bahasa adalah sistem lambang dan lambang itu sendiri adalah kombinasi antara bentuk (signifiant) dan arti (signifie). Signifiant merupakan bentuk bahasa yang terkandung dalam sekumpulan fonem. Signifiant juga sebagai perwujudan akustik suatu bahasa atau wujud dasar sistem fonologi suatu bahasa. Jadi, signifiant (penanda) merupakan citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita.

2. Signifie
Signifie merupakan kandungan mental atau citra mental suatu bahasa. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah makna suatu bahasa. Signifie (petanda) merupakan pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita. Setiap tanda tidak dapat dipisahkan dari tanda yang lain karena baik lafal maupun maknanya dipahami atas perbedaanya dari yang lain.
            Dari segi mental, bahasa merupakan suatu totalitas pikiran dalam jiwa manusia. Dari segi fisik, bahasa adalah getaran udara yang lewat suatu tabung dalam alat bicara manusia. Jadi, bahasa merupakan pertemuan antara totalitas pikiran dalam jiwa dan getaran yang dibuat manusia melalui alat-alat bicaranya. Misalnya gambar kuda dilambangkan dengan kuda (ind), jeren (mdr), jeran (bawean), dan jaran (jawa).
            Apabila ada berujar kuda dan kita mendengar rentetan bunyi /k, u, d, a/ itulah yang disebut signifiant, sedangkan bayangan kita terhadap seekor kuda disebut signifienya, yaitu seekor binatang berkaki empat, memiliki bulu di leher, dengan tenaga yang begitu kuat.

E. SINTAKMATIK DAN PARADIGMATIK
                 
1. Sintakmatik
            Hubungan sintakmatik adalah hubungan yang diperoleh jika satuan-satuan diletakkan bersama dalam satu tindak bicara. Unit-unit kebahasaan dapat digabungkan menjadi bangun yang lebih panjang. Misalnya, apabila kita berkata rumah bagus itu akan dijual, maka kita melihat bentuk rumah yang dihubungkan dengan bentuk lain yang berbentuk suatu keutuhan.


2. Paradigmatik
            Hubungan paradigmatik adalah hubungan derivatif atau inflektif serangkaian bentuk jadian dengan bentuk dasar dari unit bahasa. Hubungan paradigmatik adalah hubungan antarelemen yang dapat saling menggantikan dalam slot yang sama dalam struktur kebahasaan, seperti yang tampak di bawah ini.
mesin
bermesin
mesinnya
permesinan
Kata mesin dengan bentuk di bawahnya memiliki hubungan paradigmatik.

























KEPUSTAKAAN

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Ibrahim, Abd. Syukur. 1985. Aliran-aliran Linguistik. Surabaya: Usaha Nasional.

Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum, Historis Komparatif dan tipologi Struktura. Jakarta: Erlangga.

Pateda, Mansoer. 1988. Linguistik, Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa.

Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir linguistik. Surabaya: Alirlangga Universitas Press.

Wahab, Abdul. 1995. Isu Linguistik, Pengajaran bahasa Indonesia dan Sastra. Surabaya: Airlangga Universyty press.

Sunday, October 12, 2014

abstract skripsi ekonomi WACES



ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE PERFORMANCE OF BANKING
IN INDONESIA

BY:
WASIS RAHARJO
Abstraction


            This research to determine the effect of the inflation rate (X1), Interest Rate (X2) and Exchange (X3) on the performance of banking in Indonesia. The study was conducted based on financial ratios Banking in Indonesia. During the period of 12 years between 2000 until 2011 where the bank's performance benchmark is ROA.
 
            This study used multiple linear regression method by setting the dependent variable is Return on Assets (ROA), and the rate of inflation Variables (X1), Interest Rate (X2) and Exchange (X3). before analyzing the regression results, these results are tested first classical assumptions and significance, ensuring that the results meet the standards BLUE (Best Linear Unbiased Estimator)

            The results of this study indicate that the rate of inflation (X1), Interest Rate (X2), and the exchange rate (X3) simultaneously significant effect on Return On Asset (Y). Indicated by F count = 15,924> F = 4.07. While partially, variable Interest Rate (X2) significantly influence the Return on Assets (Y). But Inflation (X1) and Exchange (X3) does not significantly influence the Return on Assets (Y).

Keywords: Inflation, Interest Rate, Exchange Rate and Return on Assets